Pages

Saturday, September 22, 2012

Model Bugil Diwarnai Serupa Latar Belakang Dan Jadilah Karya Seni Menakjubkan!

Lagi! Sepertinya memang senimana ga akan pernah mati ya gan ide-idenya  Kali ini ada para model bugil kemudian seluruh tubuhnya dicat sewarna dengan latar belakang tempat foto. Ide yang menarik menghasilkan gambar yang menakjubkan! 

Fotografer Jean-Paul Bourdier telah mendedikasikan waktunya untuk membuat modelnya terlihat seperti mereka bahkan tidak ada, badan dicat untuk meniru warna latar belakang gurun dan tertutup salju bidang.

Orang Prancis, yang tinggal di Berkeley, California, JeanPaul, telah menghabiskan 15 tahun terakhirnya untuk mengambil gambar di Amerika Barat.


Spoiler for 


Spoiler for 


Spoiler for 


Spoiler for 

mencat modelnya dengan cat warna biru untuk mencocokkan langit


Bumi Akan Gelap Dec 2012 (kiamat kah?)

Cuma coba berbagi buat agan semua, bahwa NASA memprediksi bumi akan gelap selama 3 hari di 23 desember - 25 desember 2012.
Apakah ini suatu bencana atau malah anugrah?
Lebih baik kita bersiap.....benar atau tidak semua adalah prediksi manusia.

Ini petikannya...

(Whether it's true or not, better be prepared. No panic, stay calm, just pray. Remember to smile more, love more, forgive more...everyday. Better avoid traveling during December 2012.)
NASA predicts total blackout on 23-25 Dec 2012 during alignment of Universe. US scientists predict Universe change, total blackout of planet for 3 days from Dec 23 2012. It is not the end of the world, it is an alignment of the Universe, where the Sun and the earth will align for the first time. The earth will shift from the current third dimension to zero dimension, then shift to the forth dimension. During this
transition, the entire Universe will face a big change, and we will see a entire brand new world.
The 3 days blackout is predicted to happen on Dec 23rd, 24th and 25th....during this time, staying calm is most important, hug each other, pray pray pray, sleep for 3 nights...and those who survive will face a brand new world....for those not prepared, many will die because of fear. Be happy..., enjoy every moment now. Don't worry, pray to God everyday.
There is a lot of talk about what will happen in 2012, but many people don't believe it, and don't want to talk about it for fear of creating fear and panic. We don't know what will happen, but it is worth listening to USA's NASA talk about preparation

Ini terjemahannya (dibantu mbah google) :

(Apakah itu benar atau tidak, lebih baik bersiaplah. Panik ada, tetap tenang, hanya berdoa Ingatlah untuk tersenyum lebih, lebih mencintai, mengampuni lebih .... Sehari-hari. Lebih baik menghindari bepergian selama bulan Desember 2012.)
NASA memprediksi jumlah pemadaman pada 23-25 ??Desember 2012 selama keselarasan alam semesta. Ilmuwan AS memprediksi perubahan Universe, pemadaman total planet selama 3 hari dari 23 Desember 2012. Ini bukan akhir dari dunia, itu adalah keselarasan alam semesta, di mana matahari dan bumi akan menyelaraskan untuk pertama kalinya. Bumi akan bergeser dari dimensi ketiga saat ini ke nol dimensi, kemudian beralih ke dimensi sebagainya. selama ini
transisi, seluruh Semesta akan menghadapi perubahan besar, dan kita akan melihat sebuah dunia baru seluruh merek.
3 hari pemadaman diperkirakan terjadi pada Des 23, 24 dan 25 .... selama ini, tetap tenang yang paling penting, berpelukan, berdoa berdoa berdoa, tidur selama 3 malam ... dan mereka yang bertahan hidup akan menghadapi sebuah dunia baru .... bagi mereka yang tidak siap, banyak orang akan mati karena takut. Be happy ..., menikmati setiap saat sekarang. Jangan khawatir, berdoa kepada Tuhan setiap hari.
Ada banyak pembicaraan tentang apa yang akan terjadi pada tahun 2012, tetapi banyak orang tidak percaya, dan tidak ingin membicarakannya karena takut menciptakan ketakutan dan panik. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi perlu mendengarkan bicara NASA USA mengenai persiapan

Harapan Kosong Dalam Sebuah Impian Dari Sebuah Kenangan



Hatiku telah tertutup awan kelabu
gelap sudah rasa ini padamu
kau acuhkan aku saat kau telah memiliki yang lain
tapi kau rayu aku saat kau membutuhkanku

ku telah terlanjur sayang padamu
akupun akan selalu berusaha untuk menepati janji itu
tapi kenapa kau tak berusaha untuk menepati janjimu sendri

kau malah menjelekanku dalam setiap stat yang kau tulis hanya untuk membela orang yang berada di dunia maya
dan kau selalu membanggakan orang yang belum pernah membahagiakanmu secara nyata

kini semua harapanku telah sirna
harapanku telah kosong
impianku telah hancur karena oranng ke tiga

dan hanya sebuah kenangan yang terus tersimpan dalam hati
biarlah ku yang selalu menderita
biarlah ku yang selalu sakit2an
biarlah ku yang selalu merenungi kesedihan ini
karena semua'a telah hilang
oleh orang yang tak punya malu

kini sudah tiba waktu'a ku mengikhlaskanmu
kata ini sungguh berat untuk ku ucapkan
kata2 ini pula yang mengakhiri kisah


hanya sebuah puisi,syair dan sajak indah yang selalu ku lantunkan

mawar merah kini telah mengering
jatuh berguguran dan terinjak
hingga seluruh tubuhnya terasa sakit.

bunga kehidupan yang telah kuncup mati dengan begitu saja.
sampai dimana kita bersabar........?
sampai dimana kita bergembira di atas penderitaan orang lain?

kau sudah di bodohi olehnya
tapi kau tak sadar2 juga dengan apa yang telah kau lakukan.

siapa yang selalu kau banggakan...?
siapa yang selalu siap membantumu dikala susah...?
siapa yang mau menemanimu disetiap sakitmu....?
dengan siapa kau selalu mengeluh dan membuat orang sedih...?


mungkin semua ini adalah jalan hidupku.
walau kau membaca'a kau takkan mengerti karna kau tak punya hati nurani
kau hanya punya ambisi kebahagian walau orang yang menderita.

dalam satu sumur kita membagi air
dan apakah si sumur itu ikhlas dengan pemberiannya.

Sampai kapan pun tetap TEMAN



Kau boleh jadi elang
Dengan bentangan sayap
Tak pernah mundur menantang
Ombak di depan

Kau boleh jadi pohon
Dengan rambatan akar yang kekar
Menumbuhkan keteduhan dan perdamaian

Kau boleh jadi matahari
Dengan seberkas sinar terang
Menghangatkan dunia yang gersang

Kau boleh jadi mutiara
Dengan indah sinarnya
Terpendam tapi selalu dirindukan

Kau boleh jadi apapun yang kau mau
Tapi kapanpun dan dimanapun
ingatlah selalu kita

Friend



Time is so fast
I'm afraid of the fact
Parting brings sorrow ..
Friend ..
Do not ever forget me
Memories of our days
Where laughter and jokes
Adorn the beauty of our youth ..
Friend ..
Will you remember me ..
Although asked my smile ...:)

Friends of ...
You are a gift ...
God's grace given me beautiful
You are the one who is always there
And my horrible ...
I do not want to lose you ...
I do not want to restrain yourself ...
I just want to have someone who is always in

my side ...
I want to be the only person ...
That can make you happy
Friends of ...
If I could fly to the sky ...
I'm taking you to the moon
I'll get you a star up there
Give them to you, so you'll know that ...
I love you ...
Friends of ...
Because friendship means so much
I pray that you and I always keep this friendship ...
Friends of ...
Anywhere ...
Whenever ...
I will always be in my memory menyimpanmu
And take care of them ...

Friday, September 21, 2012

Berkat Sahabat - Artikel Motivasi


Ini kisah persahabatan dua anak manusia. Yang seorang adalah putra presiden, yang lain pemuda rakyat jelata bernama Pono. Persahabatan ini sudah terjalin sejak mereka masih di bangku sekolah. Pono punya kebiasaan yang kadang menjengkelkan. Apa pun peristiwa yang terjadi di depannya selalu dianggap positif. "Itu Baik!" katanya senantiasa.

Hari itu seperti yang sering mereka lakukan, Pono menemani sahabatnya berburu. Tugasnya membawa senapan dan mengisi peluru agar selalu siap digunakan. Entah kenapa, barangkali belum terkunci secara sempurna, setelah diserahkan kepada sahabatnya senapan itu meletus. Akibatnya cukup fatal.Ibu jari putra presiden terkena terjangan peluru dan putus. Melihat itu Tanpa sadar dengan kalemnya Pono berkomentar. "Itu Baik!" Kontan sahabatnya naik pitam. "Bagaimana Kau ini! Jempolku putus tertembak, malah dibilang Baik. Brengsek!" Agaknya, kali ini kelakuan Pono tak termaafkan. Ia dijebloskan ke penjara.
Beberapa bulan kemudian, sang putra presiden kembali pergi berburu ke Afrika. Malang, ia tersesat di hutan lebat dan ditangkap suku primitif yang masih kanibal. Malam harinya, dalam keadaan terikat ia akan dibakar untuk disantap ramai-ramai. Anehnya, mendadak ia dibebaskan. Belakangan ketahuan, suku tersebut pantang memangsa makhluk yang organ tubuhnya tidak lengkap.
Nasib baik itu membuat sang putra presiden termenung. Ia teringat kembali peristiwa ketika jempolnya putus tertembak lantaran ulah Pono. Ia kemudian menemui Pono di penjara.
"Ternyata Kau benar. Ada baiknya jempolku tertembak," katanya sambil menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya di Afrika. "Aku menyesal telah memenjarakanmu."
"Oh, tidak!' Bagiku, ini Baik!"
"Bagaimana kau ini? Memenjarakan teman kau bilang baik?"
"Kalau aku tidak dipenjara, pasti saat itu aku bersamamu."
Kisah satir ini mengingatkan pada pernyataan Randolph Bourne, intelektual Amerika yang juga anak didik John Dewey. Katanya, seorang teman itu memang dipilih untuk kita berdasarkan hukum perasaan yang tersembunyi, bukan oleh kehendak sadar kita si manusia.

Kasih Sayang, Kesuksesan, Kekayaan - Artikel Motivasi

Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah, dan ia melihat ada 3 orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua. Wanita itu berkata: "Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semuapasti sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut". Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, "Apakah suamimu sudah pulang?" Wanita itu menjawab, "Belum, dia sedang keluar". "Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali", kata pria itu. Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, "Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini".

Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam."Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama sama", kata pria itu hampirbersamaan. "Lho, kenapa? tanya wanita itu karena merasa heran. Salahseseorang pria itu berkata, "Nama dia Kekayaan," katanya sambil menunjukseorang pria berjanggut di sebelahnya, "sedangkan yang ini bernamaKesuksesan, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya. Sedangkan akusendiri bernama Kasih Sayang. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapadiantara kami yang boleh masuk ke rumahmu."Wanita itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan pria di luar.Suaminya pun merasa heran. "Ohho... menyenangkan sekali. Baiklah, kalaubegitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah inipenuh dengan Kekayaan."Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, "Sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen ladang pertanian kita."Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. "Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Kasih Sayang yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyamandan penuh dengan kehangatan Kasih Sayang."Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. "Baiklah, ajakmasuk si Kasih Sayang ini ke dalam.

Dan malam ini, Si Kasih Sayang menjadi teman santap malam kita." Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3pria itu. "Siapa diantara Anda yang bernama Kasih Sayang? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini."Si Kasih Sayang bangkit, dan berjalan menuju beranda rumah. Ohho..ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan. "Aku hanya mengundang si Kasih Sayang yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga?" Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. "Kalau Andamengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Kasih Sayang, maka kemana pun Kasih Sayang pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada Kasih Sayang, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami berdua ini buta. Dan hanya si KasihSayang yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalankebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saatberjalan. Saat kami menjalani hidup ini."


Cinta Tak Terungkap


Dinginnya angin malam membuatku tersadar dari rasa kantuk yang sudah menderaku dari dua jam yang lalu. Kulihat ke arah dinding jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Di sekelilingku sudah tidak ada yang bersuara, ruangan ini terasa amat sunyi. Hanya ada suara jam dinding yang berdetak, ditemani dengan suara tetesan air dari jarum infus yang menggantung disertai dengan detakan alat pendeteksi nadi, dan suara tarikan nafas yang naik turun dari balik masker oksigen. Ku amati tubuh lemah di depanku yang sedang berbaring tak berdaya di atas tempat tidur dimana aku merebahkan kepalaku.
Ku amati tubuh itu dengan penuh rasa haru. Ingin rasanya aku keluarkan semua perasaan yang ada di dadaku, namun apa gunanya? Tubuh itu tak akan bisa bersuara, dia hanya bisa diam tanpa menjawab. Seribu rasa penyesalan berkecamuk di dadaku, seperti bom waktu yang sebentar lagi akan meledak. Ku amati tubuh itu dengan lebih seksama. Tubuh itu, tubuh lemah seorang Sinta, sedang bersusah payah menarik nafas dari balik masker oksigen agar tetap bisa melihat indahnya dunia. Tanpa kusadari, pikiranku pun melayang pada saat pertama kali aku mengenalnya sampai akhirnya semua peristiwa ini terjadi.
Waktu itu pertengahan bulan Juli sedang berlangsung masa orientasi di kampusku. Kebetulan aku menjadi salah satu panitia ospek dimana pada saat itu Sinta baru bergabung di kampusku alias mahasiswi baru. Semuanya berjalan lancar tanpa ada keributan, sampai tiba-tiba dari kejauhan…
“Tolong…tolong…ada yang pingsan nih.” Terdengar suara seorang mahasiswi sedang berteriak minta tolong.
“Ada apa tuh Ton?” tanya Bobi,temanku.
Tanpa menjawab, Aku dan Bobi langsung berlari ke arah teriakan berasal.
“Kenapa ini?” tanyaku. “Capat bantu aku! Bawa dia ke ruang perawatan.
Sesampainya di ruang perawatan, ku baringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Nafasnya terdengar naik turun. Ku sapukan alkohol ke hidungnya, dan syukurlah akhirnya dia sadar juga.
“Kamu kenapa?” tanyaku. “Gak papa kak, mungkin karena belum sarapan,” jawabnya dengan lembut.
“Pantesan. Lain kali sarapan dulu baru pergi,” sahutku. “Sekarang kamu istirahat aja, gak usah ikutan ospek, ntar biar aku yang urus. Oh ya, nama kamu siapa?”tanyaku.
“Sinta kak. Makasih banyak ya kak.”
“Dasar Anton, gak bisa lihat yang bening dikit,” celoteh Bobi.
“Diem lue,” jawabu sambil tersenyum dan melangkah pergi.
Sejak saat itu, Aku dan Sinta semakin dekat. Kami sering pergi dan pulang bareng. Semua teman-teman kami mengira aku dan Sinta pacaran, padahal tidak. Kami memang selalu berbagi dalam hal apapun. Dia selalu mendukungku apabila aku benar dan mengkritikku kalau aku salah, demikian sebaliknya. Tidak pernah ada yang kami sembunyikan, apapun bentuknya, walau masalah yang amat pribadi sekalipun. Sinta sangat berarti bagiku. Aku tidak tahu apa ini cinta atau hanya sekedar rasa sayang kakak pada adiknya. Entahlah…. yang ku tahu hanyalah hari-hariku akan terasa sepi tanpa kehadirannya. Sampai akhirnya Bobi menginterogasiku.
“Ton, sebenarnya kamu itu suka gak sih ama Sinta? Jangan gak jelas gitu. Kalau kamu emang suka, kamu harus milih dia apa pacarmu yang di Bandung, jangan dua-duanya kamu gantung begini, kasihan kan anak orang. Yang gentle dikit lah. Malah aku lihat Sinta itu sayang banget ama kamu, kelihatan koq dari sikapnya ke kamu.”
“Itulah masalahnya Bob. Awalnya rasa sayangku padanya biasa-biasa aja, namun sekarang aku lebih menyayangi Sinta daripada pacarku yang di Bandung. Aku selalu ingin memberikan yang terbaik untuknya dan menjadikannya lebih baik dari sekarang. Aku juga tahu kalau dia itu sayang ama aku, tapi aku gak tahu harus apa. Sementara untuk memutuskan pacarku rasanya sulit, karena keluarga kami sudah terlalu dekat. Aku bingung!”
“Kenapa harus bingung, ikuti aja apa kata hatimu karena yang ku tahu kata hati itu gak akan pernah berbohong. Kalau soal keluarga, kamu ngomong aja baik-baik, aku yakin mereka bakalan ngerti koq. Orang tuakan selalu ingin anaknya bahagia. Percaya deh ama aku.”
“Ok deh, aku akan memikirkannya benar-benar, thanks ya.”
“It’s ok man, that’s what friends are for,” tambahnya. Temanku yang satu ini memang teman yang luar biasa.
Satu minggu sudah berlalu, dan akupun telah memutuskan apa yang akan kulakukan. Kuputuskan untuk pulang ke Bandung untuk menceritakan semuanya. Keputusanku sudah bulat, aku akan memilih Sinta. Tapi hal ini belum kuutarakan padanya karena aku ingin memberikannya kejutan. Ku katakan padanya kalau aku harus ke Bandung karena ada urusan keluarga. Sesampainya di Bandung, kukatakan pada orang tuaku tentang rencanaku. Awalnya mereka menentang, namun setelah ku jelaskan permasalahannya, akhirnya mereka mau mengerti dan mendukungku. Dengan syarat, Ranti (pacarku) dan keluarganya gak keberatan.
Akhirnya aku memberanikan diri untuk menemui Ranti dan keluarganya. Kedua orang tuaku ikut bersamaku. Sama halnya dengan kedua orang tuaku, awalnya orang tua Ranti sangat marah padaku dan memaki-maki aku. Aku maklum, namanya juga orang tua, mereka pasti marah kalu anaknya disakiti. Sementara Ranti hanya diam. Kemarahan mereka mereda setelah ku jelaskan kalau Ranti akan lebih terluka kalau hubungan kami tetap dilanjutkan. Dan tiba-tiba Ranti angkat bicara…
“Pak, Bu, mas Anton benar. Ranti akan lebih terluka kalau mas Anton mengkhianati Ranti. Biar bagaimanapun ini jauh lebih baik. Lagipula, kalau dipaksakan hasilnya tidak akan baik. Tidak akan pernah ada rasa saling sayang yang tulus diantara kami. Biarlah mas Anton bersama yang lain. Bapak dan Ibu kan sudah berusaha menjodohkan kami, namun Tuhan berkata lain, lantas kita bisa apa? Dan buat mas Anton, Ranti ikhlas koq kalau ini semua harus berakhir.”
Aku terkejut dengan apa yang dikatakan Ranti barusan.
“Be…be…benar kamu ikhlas?” tanyaku terbata-bata sambil menatap wanita bijak dihadapanku dengan penuh kekaguman. Sikap bijaksananya inilah yang membuatku menerima perjodohan kami.
“Benar.”
Sekali lagi aku terdiam beberapa saat.
“Terima kasih banyak ya Ran, dan maafin mas kalau keputusan mas menyakiti perasaan Ranti.”
“Ranti gak papa koq mas. Mas gak salah, lagian cinta itu kan hak pribadi setiap orang,” ujarnya sambil tetap tersenyum.
Kemudian aku dan keluargaku pamit pada Ranti dan keluarganya. Aku tak henti-hentinya memohon maaf dan memohon agar hubungan dua keluarga yang sudah terjalin jangan sampai putus. Ku ucapkan ribuan terima kasih pada Ranti yang sudah mau mengerti akan keputusanku. Kemudian Ranti dan keluarganya mengatakan bahwa hubungan keluarga kami akan baik-baik saja, aku tak perlu khawatir.
Dua hari kemudian kuputuskan untuk kembali ke Jakarta karena aku sudah gak sabar lagi ingin menemui Sinta dan mengutarakan isi hatiku. Namun sesampainya di Jakarta, bukannya kabar baik yang kuterima. Maksud hati ingin memberikan kejutan, tapi malah berbalik menjadi keterkejutanku.
“Sintanya ada bik?” tanyaku pada pekerja di rumah Sinta ketika aku sampai di rumahnya.
“Eeh mas Anton. Mbak Sintanya gak ada, kan lagi di rumah sakit Cipto,” jawab si bibi.
“Lho, siapa yang sakit bik?” tanyaku.
“Mas Anton gak tahu toh? Dua hari yang lalu mbak Sinta pingsan dan di bawa ke rumah sakit. Katanya Ibu sih sampai sekarang belum sadar, lagi koma kalau gak salah,” ujar si bibi dengan lugunya.
Tanpa ba-bi-bu lagi, aku langsung beranjak pergi tanpa memperdulikan teriakan si bibi. Tujuanku hanya satu, rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, kulihat orang tua Sinta sedang terduduk lesu tak berdaya di depan ruangan ICU. Dari sinilah awal penyesalan itu datang.
“Ada apa dengan Sinta om, koq tiba-tiba anfal? Waktu saya pergi kemarin sepertinya dia gak papa,” tanyaku pada papanya Sinta. Mereka hanya diam tanpa bisa menjawab, sampai akhirnya kutanyakan sekali lagi, baru mereka menjawab.
“Sinta memang sering seperti ini nak Anton, tapi kali ini yang terparah,” jawab papanya.
“Sering? Ada apa sebenarnya om?”
“Sebenarnya…sebenarnya…” Setelah menarik nafas panjang, papanya Sinta melanjutkan ucapannya. “Sebenarnya Sinta sudah terjangkit Leukimia sejak SMP dulu. Kami sudah membawanya berobat kemana-mana, tapi nihil,” ujar papanya sambil berusaha menahan air mata.
Lututku langsung lemas seketika, jantungku seakan berhenti berdetak. Ini benar-benar kejutan yang amat sangat mengejutkanku. Leu…leu…leukimia? Ya Tuhan, kenapa? Sintaku sayang…sesalku dalam hati. Ku alihkan pandanganku ke dalam ruangan melalui bagian pintu transparan. Kulihat Sinta terbaring dikelilingi dengan berbagai macam alat-alat kedokteran yang entah apa namanya aku tak tahu. Sadarlah Sinta, ujarku dalam hati. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, sadarlah sayangku… Penyesalanku semakin bertambah ketika orang tua Sinta mengatakan padaku kalau selama ini Sinta sangat menyayangiku, namun tak berani mengatakannya dengan alasan penyakit yang dideritanya. Dia hanya bisa mencurahkan perasaannya pada orang tuanya dan pada buku hariannya yang kini sudah berada di tanganku. Orang tuanya yang memberikan.
***
“Nak Anton, bangun, makan dulu. Kamu kan belum makan dari tadi. Dah jam 11 nih.” Terdengar suara seorang wanita memanggilku. Ya ampun…rupanya aku tertidur. Mungkin karena terlalu asyiknya melamun, tanpa sadar aku tertidur.
“Eeh iya tante, ntar lagi aja, masih kenyang, tadi sore dah makan di kampus,” jawabku sambil membetulkan posisi dudukku.
“Ooh ya sudah, tapi kalau dah lapar makan aja, ntar sakit lagi.”
“Iya tante.”
Suasana kembali sunyi seperti semula. Kulihat Sinta masih belum sadarkan diri. Ku tatap dia dengan penuh rasa sayang. Sadarlah Sinta… Ya Tuhan, sadarkanlah Sinta, izinkanlah kami berbagi kasih sayang, izinkanlah aku mengatakan apa yang kurasakan padanya, agar dirinya tahu bahwa aku juga sangat menyayanginya, aku gak mau kehilangan dia, doaku dalam hati. Seandainya aku tidak terlalu lama mengambil keputusan semuanya mungkin tidak akan seperti ini. Seandainya aku mengatakannya lebih awal mungkin aku bisa membuatnya bahagia, bukannya malah membiarkannya menderita menahan perasaannya sendiri sampai akhirnya dia anfal. Ya Tuhan, aku menyesal, aku memang bodoh. Seandainya waktu dapat kuputar kembali… Seandainya… Seandainya… Aku berusaha menahan air mataku. Namun tiba-tiba…
“Om, tante! Sinta bergerak, dia sadar! Saya akan panggil dokter,” teriakku setelah keluar dari ruang ICU. “Apa? Sinta sadar?” kedua orang tua malang itu langsung berlari ke tempat tidur Sinta. Aku pun dengan segera berlari disepanjang lorong rumah sakit untuk memanggil dokter. Aku dan dokter yang menangani Sinta pun kembali ke ruang ICU sambil berlari. Namun ketika dokter memeriksa keadaan Sinta….
“Pak, Bu, nak Anton, maafkan saya,” kata sang dokter sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Apa maksud anda?” tanyaku. “Tadi kami lihat Sinta bergerak.”
“Saya tahu, mungkin itulah saat terakhirnya. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Tuhan berkata lain, maaf,” ujar sang dokter.
Kami semua terdiam. Kedua orang tua Sinta saling berpelukan sambil menangis karena anak mereka satu-satunya sudah dipanggil yang maha kuasa. Oh Tuhan, tidak! Kenapa harus begini? Tidak, tidak, tidaaaaaaakkkk!!!!!!! Teriakku sambil berlari keluar ruangan. Tak kuperdulikan teriakan orang tua Sinta yang memanggilku. Aku menuju ke tempat dimana sepeda motorku terparkir. Ku hidupkan mesin dan langsung tancap gas tanpa tujuan yang pasti. Di sepanjang jalan aku terus berteriak mengeluarkan semua penyesalan yang ada di dadaku. Sinta maafkan aku… Kalaupun ini harus terjadi setidaknya kamu tahu kalau aku juga mencintaimu dan mungkin kamu akan bahagia walau hanya sebentar, tidak seperti sekarang, ini semua salahku! Tidaaaakkkkk!!!!!teriakku sekali lagi, aku tidak perduli dengan situasi jalan raya yang masih ramai. Semua kenangan itu terlintas dalam pikiranku tanpa terkecuali. Semua candanya, kelembutannya, pengertiannya, kasih sayang yang ditunjukkannya padaku, semuanya…semuanya… Oh Tuhan…alangkah bodohnya aku, kutukku dalm hati. Aku terus melajukan sepeda motorku dengan kecepatan tinggi. Semua rasa penyesalan itu terus hadir secara bergantian dalam kepalaku. Sampai tiba-tiba… “Aaakkhh…” aku dan motorku terguling-guling ke luar jalan raya. Beberapa menit kemudian, aku terbangun. Kulihat masyarakat sudah ramai disekelilingku, tubuhku penuh darah. Namun….dari kejauhan kulihat seseorang mirip Sinta. Aku tidak perduli dengan keramaian disekitarku dan darah di tubuhku. Ku dekati orang itu. Ya ampun…itu memang Sinta!
“Sinta? Ini kamu?” ku peluk tubuhnya dengan erat penuh kerinduan. Tapi Sinta hanya diam. Dia mengajakku pergi dari tempat itu, dan tentu saja aku memenuhi permintaannya. Aku dan Sinta beranjak pergi meninggalkan tempat itu, tempat dimana sekumpulan masyarakat sedang mengerubungi sesosok tubuh yang tergeletak kaku penuh luka sambil bertanya-tanya siapa gerangan pria ini. Dan tak jauh dari tubuh tak bernyawa itu terlihat sebuah sepeda motor yang sudah hancur.

KISAH CINTA SEORANG SUAMI [RESAPILAH SAMPAI MENANGIS]



Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkimpoianku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku.

Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Kisah Sedih Seorang Ibu

INI ADALAH REALITI HIDUP....

Ada kaum wanita menempuh kepayahan hidup di awal remaja mereka dan berubah kepada lebih baik setelah dia bekerja dan berumah tangga.

Ada pula yang susah ketika awal perkahwinan dan bahagia akhirnya setelah anak semakin besar.

Ada juga yang susah di penghujung hayat mereka. Inilah yang menyedihkan.

"Nasib saya tidak seperti ibu ibu di atas tadi, boleh saya katakan hidup saya susah, tertekan jiwa, hati dan perasaan sejak dari saya berada di zaman remaja hinggalah setelah saya bercucu sekarang."

"Saya rasa mungkin saya salah seorang ibu malang di dunia ini, namun saya taklah kesal sudah nasib saya. Ini kehendak Allah saya redha, tetapi saya kesal sikap anak menantu yang membuatkan hati saya hancur seperti kaca terhempas ke batu,''

Demikian cerita Puan Hamizah dalam surat pendek yang dihantarkannya dan ketika kami berbual petang Isnin lalu. Sebenarnya sudah beberapa kali kami berbual, tetapi perbualan kami terputus-putus, kerana gangguan cucu menangis dan beliau takut bercakap terlalu lama di telefon bimbang anak menantunya tidak dapat menghubunginya di rumah kerana telefon sedang digunakan. Jadi kami berbual kira-kira 6 minit setiap panggilan. Hinggalah saya faham perasaan hati beliau yang terluka selama ini.

"Dah lama sangat saya nak luahkan isi hati saya ini, tetapi tak ada orang yang boleh saya percayai, lagi pun kehidupan saya yang terkurung tidak mengizinkan saya berjumpa dengan ramai orang. Nak cakap dengan jiran takut anak terasa malu. Jadi saya simpan semuanya dalam hati."

"Tetapi apa pun kesimpulan masalah saya ini semuanya berpunca kerana kemiskinan dan kesusahan hidup saya. Kalau hidup kita miskin, anak menantu pun tak suka, malah menganggap kita menyusahkan hidup mereka sahaja. Itulah nasib saya."

"Saya ibu tunggal, diceraikan kerana suami saya nak kahwin lagi, bakal isteri barunya tak mahu bermadu, jadi tinggallah saya bersama anak-anak seramai empat orang ketika itu masih dalam sekolah rendah dan dua sekolah menengah. Kerana anak pertama dan kedua perempuan agak pandai sikit dapatlah dia belajar ke sekolah menengah sains berasrama. Walaupun duduk asrama saya terpaksa hantar duit sebab belanja mereka agak tinggi, macam-macam benda nak dibeli"

"Saya bekerja keras untuk mencukupkan belanja mereka di samping dua orang lagi yang masih bersekolah rendah. Ayah mereka setelah menceraikan saya nafkah anak-anak langsung tak bagi. Nak jengok anak pun takut isteri baru marah. Puas saya pergi pejabat dan turun naik mahkamah syariah tapi gagal dapatkan nafkah. Buat habis duit tambang aja, terpaksa cuti akhirnya saya buat keputusan biarlah dia berseronok dengan kehidupan barunya dan jawablah di akhirat nanti".

"Ketika bercerai saya tak ada rumah, menyewa rumah kecil di kawasan dekat KL memang mudah saya pergi kerja, tapi sewa rumahnya tinggi. Selain bekerja saya jual kain potong yang orang hantar minta saya jualkan, paling tidak dapat juga anak-anak berganti pakaian yang mereka berikan. Biarpun pakaian terpakai tetapi masih baru, senanglah kami berpakaian. Kalau besar saya kecilkan."

``Dengan izin Allah anak yang tua sambung belajar buat diploma dua tahun kemudian yang kedua pulak ikut sama. Harapan saya bila mereka bekerja nanti senanglah sikit hidup saya.
Sayangnya saya cuma berharap, Allah yang menentukan".

"Tak sampai enam bulan bekerja dia nak kahwin. Tersentak juga rasa hati, cepat sangat anak saya laku. Walaupun saya minta dia tangguhkan dulu, sebab tak berduit buat kenduri, tetapi yang lelaki mendesak. Anak saya Izah terpaksa ikut. ``Kenduri kami ala kadar saja. Kata Izah bakal suaminya tak suka buat majlis panggil ramai orang, membazir aja. Saya ikutkan memang pun saya tak berduit lagipun hantarannya tak tinggi cukup buat kenduri saja. Selesai majlis cuma dua malam menantu saya tidur di rumah, mereka terus pindah rumah lain".

"Dua hari lepas mereka pindah, ketika saya sibuk mengira hutang belum selesai Izah datang ke rumah bersama suaminya, bertanyakan mana set bilik pengantin sebab dia nak bawa ke rumah mereka. Izah tahu saya cuma beli katil dan tilam, almari pakaian dan almari solek pakai yang lama lagi pun rumah sewa kami kecil sangat mana nak muat. Tetapi sebenarnya saya tak mampu nak beli semua benda itu. Kerana tak ada set tersebut menantu saya minta beli yang baru. Hutang lagi. Izah tak berani bantah walaupun dia tahu saya tak berduit. Hutang lama tak selesai hutang baru bertambah. Namun dalam hati kecil saya mengharapkan kalau Izah bagi saya RM100 setiap bulan seperti sebelum dia kahwin, mungkin hutang itu boleh saya selesaikan. Tetapi sejak Izah kahwin dia tak beri saya duit langsung".

"Waktu itu memang saya susah, mana nak bayar hutang, tiga orang anak lagi tengah belajar, seorang peringkat akhir pengajiannya, sementara seorang lagi nak ambil SPM, tetapi pada siapa saya nak mengadu, saudara mara bukan orang kaya, mereka pun duduk kampung harapkan anak-anak. Namun mereka masih bernasib baik daripada saya kerana ada anak-anak yang menolong. Berbanding saya...".

"Kerana terdesak saya minta Izah bantu bayarkan duit pereksa adiknya, tetapi kata Izah dia tak ada duit, semua duit gajinya suaminya pegang. Kata Izah suaminya kata lepas kahwin dia mesti ikut perentah suami bukan emak lagi, syurga bawah tapak kaki suami. Lagi pun dia nak simpan duit beli kereta baru dan rumah. Hendak tak nak saya terpaksa tebalkan muka pinjam pada kawan sekerja RM100 janji bayar dua bulan. Ketika Imah habis belajar saya menyimpan hajat mungkin bila dia kerja nanti dia boleh membantu saya. Imah pulak lambat dapat kerja, dia terpaksa kerja sementara di kilang, memang dia ada bantu saya cuma beberapa bulan sebelum dapat kerja yang memaksanya pindah duduk nun di Selatan".

"Hati saya suka dalam duka. Gembira anak dapat kerja tapi sedih dia terpaksa tinggalkan saya. Di tempat baru dia terpaksa sewa rumah, jadi untuk tiga bulan pertama memang dia tak kirimkan saya duit sedikit pun. Sebaliknya saya terpaksa meminjam bagi dia bekalan sedikit duit semasa pindah dulu. Sekali lagi kawan jadi mangsa. Tapi saya bayar balik semuanya walaupun berdikit-dikit".

"Anak kedua pun cepat jodoh, tak sampai setahun bekerja dia kahwin orang sana. Saya buat kenduri kecil, nak panggil ramai orang kita perlu belanja besar. Asalkan mereka selamat kahwin sudah cukup. Ayah mereka datang untuk izinkan nikah saja. Tak ada satu sen pun dia keluarkan duit belanja".

"Kalau orang lain gembira anak perempuan mereka cepat kahwin tapi orang susah macam saya cuma tangis mengiringi mereka. Sedih dan takut apakah Imah juga ikut jejak kakaknya serahkan semua duit gajinya kepada suami. Kalau saya orang senang memang saya tak harap duit mereka, tetapi susah merekalah harapan saya".

"Dua orang anak lelaki saya Ismail dan Ishak faham masalah saya. Ismail tolak tawaran buat diploma walaupun dia layak, dia bekerja di kilang, katanya nak tolong saya dan adiknya habiskan belajar sampai tingkatan lima".

"Saya menangis mengenangkan pengorbanannya, namun saya terus memujuk supaya dia terus belajar, biarlah saya susah bekerja dan berhutang, asalkan masa depannya terjamin, tetapi dia menolak, dia terus kerja kilang. Katanya dia akan sambung belajar kalau ada rezeki. Tapi sampai kini dia masih kerja kilang dengan pendapatan cukup makan saja. Anak keempat saya pun berakhir dengan kerja kilang".

"Saya cukup sedih, tetapi apakan daya saya tidak ada kemampuan untuk mendesak mereka terus belajar kerana saya pun tak berduit. Ayah mereka tak ambil peduli selepas dia dapat empat orang lagi anak dengan isteri baru dan masil kecil- kecil. Peristiwa itu berlaku kira-kira 10 tahun lalu, kini badan saya semakin tua, sudah tak berdaya nak bekerja lagi. Untuk menampung hidup saya jaga anak orang yang dihantar ke rumah saya. Tetapi bila Izah tak ada pembantu dia suruh saya duduk dengan dia jaga anak-anaknya. Sekarang dah lebih 6 tahun".

"Saya rasa saya adalah pembantu rumahnya, tapi tak bergaji, dapat makan dapat tempat tidur. Tapi masalahnya saya dah berusia dekat 50 tahun, badan saya sudah tak kuat lagi. Kerana hidup susah sejak muda, saya memang kelihatan tua. Saya fikirkan bila dia ambil saya tinggal di rumahnya dapatlah saya ke surau dan buat amal ibadah dengan lebih selesa, malangnya sembahyang terawih pun jarang-jarang dapat pergi, di rumah aja menguruskan anak cucu".

"Bila sendirian saya selalu menangis mengenangkan nasib. Dari kecil anak saya besarkan, berhutang keliling pinggang untuk menyekolahkan mereka, tapi bila dah senang suami dia kutip hasil. Kalaulah anak saya menjaga saya, agaknya tak sampai umur saya 65 pasti saya dah mati. Cuma 15 tahun sahaja dia menjaga saya. Tetapi kalau dia ada umur dia akan hidup bersama suaminya lebih 42 tahun iaitu sejak 23 tahun umur dia mula bekerja hinggalah 65 tahun. Jadi apalah salahnya dia bantu hidup saya yang susah ini dan tolong anak-anaknya melanjutkan pelajaran. Memang tugas ibu membesarkan anak-anak dan menyekolahkan mereka, dan tak boleh minta pembalasan, itu benar, tetapi saya bukan orang senang saya susah".

"Apa yang menyedihkan saya ialah hidup dua orang anak lelaki saya sampai bila dia mesti bekerja jadi pekerja kilang. Bukan saya hina pekerja kilang, tetapi mereka pandai, mereka dapat tawaran sambung belajar ke IPTA. Apa salahnya kakak-kakak mereka menghulurkan bantuan kerana dia tahu saya susah dan ayahnya tak membantu dan tak pernah beri nafkah. Salahkah saya meminta bantuan. Mengapa menantu saya terlalu berkira tentang duit dan membuat saya macam hamba abdi, kalau saya jadi pembantu rumah kepada orang lain tentu saya dapat imbuhan, tetapi duduk di rumah anak sendiri saya benar-benar terhina. Saya perlukan masa sendiri untuk membuat amal ibadah yang banyak saya tinggalkan semasa bekerja dahulu. Tetapi semuanya tersekat kerana menguruskan 4 orang cucu pergi sekolah rendah, sekolah agama, tadika dan sebagainya".

"Sudahlah hidup saya susah semasa membesarkan anak-anak dahulu, dah tua begini pun saya terpaksa jaga cucu. Saya rasa terhina kerana duduki menumpang di rumah mereka. Kerana saya tidak punya apa-apa, miskin dan tak berharta saya dibuat macam hamba. Nak berbual dengan anak pun terhad, menantu sentiasa mengawasi, apa lagi kalau nak berbual dengan jiran tetangga".

"Saya merasa amat sedih terutama bila besan atau saudara mara menantu saya datang ke rumah, saya tunggang langgang di dapur memasak, mereka cuma berbual dan menunggu hidangan terhidang di meja saya betul-betul terhina".

"Lagi sedih bila menantu bising pasal bil elektrik dan air meningkat. Sabun pencuci cepat habis pun merunsingkan fikirannya. Menantu saya terlalu berkira pasal duit, duit, duit itu. Entah bila penderitaan saya akan berakhir. Saya sentiasa berdoa supaya saya tidak terlantar sakit terlalu lama sebelum mati. Kerana saya tak tahu siapa nak jaga saya nanti.''

Demikian cerita Hamizah dengan nada suara tersekat-sekat. Saya hanya tumpang sedih apakah zaman ini masih ada anak-anak seperti ini, Benarlah kata Pn Hamizah, kalau diri tak berduit bukan sahaja dihina orang, anak-anak sendiri pun benci dan tak hormatkan kita lagi. Agaknya mereka terlalu hormatkan suami kerana syurga di bawah tapak kaki suami. Ibu tak berguna lagi. Tapi kata seorang teman suami boleh berganti kalau jodoh dah tiada, tapi ibu itulah satu-satunya di dunia dan di akhirat.

Entahlah! Tapi sayangilah ibu semasa dia masih ada lagi. Kerana doa ibu membawa berkat.